“Ngapain ikut pelatihan mahal begitu?”, kira-kira begitu kalimat pertama yang aku dengar dari Bu Nur, rekan kerjaku, waktu ada yang tanya rencana liburan akhir tahun yang akan ku habiskan bersama seluruh guru dan motivator terhebat dalam sejarah pelatihan menulis untuk guru. Dalam hati saya ngedumel, “urusan amat, duit-duit gue, yang pinter juga gue!”. Belum lagi komentar negatif dari guru-guru lain yang sirik banget karena aku selalu rajin “dinas luar”, karena hobiku yang ikut pelatihan sana-sini sebagai pemburu seminar. Tapi dengan berbekal jatah uang liburan dan tanpa doa restu dari pihak sekolah, aku tetap pantang menyerah mengikuti Teacher Writing Camp (TWC) Batch 6 yang dilaksanakan tanggal 29-31 Desember 2016.
Pagi-pagi sekali aku sudah membangunkan adik laki-lakiku dan merengek minta diantarkan ke Wisma UNJ, tempat TWC 6 dilaksanakan. Berhubung kantornya di daerah Kelapa Gading, aku yakin dia pasti tahu jalan pintas tercepat menuju TKP. Setelah sampai di Wisma UNJ jam 07.00 WIB, aku langsung diantarkan menuju kamar 308 yang berada di lantai 3. Dan ternyata di dalam kamar sudah ada 3 orang yang akan menjadi room mate selama pelatihan berlangsung, Bu Ana dan Bu Tuni yang berasal dari sekolah yang sama di daerah Kabupaten Bogor, kemudian ada Bu Neni Yang diam-diam menghanyutkan berasal dari Kabupaten Tasikmalaya.
Tepat jam 08.00 WIB, acara dimulai. Jujur aja, dibilang berbakat untuk menulis aku enggak punya, tapi aku yakin kalo gak mulai dari sekarang kapan lagi. Karena selama ini hanya sebatas niat dan keinginan menulis cerpen, puisi, bahkan buku. Mulai dari MC ngomong pertama aja aku udah deg-degan, sampai akhirnya pembicara pertama membahas tentang “Menjadi Guru Inspiratif dengan Menulis” yang disampaikan oleh Mbak Siti Amelia, atau yang biasa disapa Mbak Amel. Dari situ, mataku mulai terbelalak dalam menulis. Mbak Amel menyampaikan bahwa untuk mulai menulis tidak terlepas dari 4 kunci, yaitu praying, reading, just writing, and discussion. “Sesimpel itu?”, pikirku. Tapi melihat para peserta lain yang ternyata sudah banyak membuat artikel bahkan buku, aku makin termotivasi “Masa guru lain bisa aku enggak? Kemana aja lo selama ini, Nie?”. Kata-kata itu terus berulang di hati aku.
Setelah istirahat coffee break yang agak ngaret, materi sesi II tentang “Cara Kreatif Menulis Buku” oleh Bapak Awang Surya. Luar biasa, sebagai pengusaha Beliau masih sempat mengisi acara sebagai motivator dan pembicara diberbagai pelatihan. Ada kata-kata yang disampaikan dan sangat menggugah mata batinku, “Kalau kau bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Sontak aku berpikir, “Emang siapa gue sampe pengen eksis di sosmed? Artis bukan, pejabat bukan, tapi minimal gue akan mulai eksis dengan tulisan-tulisan gue yang kali aja bisa menginspirasi”. Di setiap akhir sesi, selalu ada tugas membuat tulisan yang temanya macem-macem. Dan akhirnya, keterpaksaan yang indah, yang membuatku sebisa-bisanya menulis di hari ini.
Sebelum ke materi sesi III, ada penjelasan mengenai Program Indonesia Terdidik TIK yang dilakukan oleh Djalaluddin Pane Foundation (DPF), penjelasan disampaikan oleh Mas Fajaruddin sebagai perwakilan dari DPF. Yang intinya, program ini dilakukan untuk memotivasi guru-guru di daerah terpencil untuk melek TIK.
Sesi III disampaikan oleh Bapak Namin AB Ibnu Solihin tentang “Public Speaking for Teachers”. Belum selesai deg-degan yang tadi, dibuat tambahan dengan aku diminta berorasi. Kali ini hasilnya, gagal total, fatal. Malu tapi kalo gak coba gak akan tau aku bisa atau enggak, meskipun akhirnya enggak enggak bisa (hehehe...). Intinya yang aku tangkap, kita sebagai guru harus siap dengan berbagai kondisi dan tantangan yang pasti akan terjadi di lapangan. Sesi kali ini aku tutup dengan memaki diri sendiri, “Malu-maluin lo, Nie!”. Mungkin kalo bisa nangis sejadi-jadinya, tapi gengsi dong. Masih ada sesi lain yang bisa dibikin jauh lebih baik.
Setelah dibikin down, Pak Namin memberikan tips-tips yang sedikit mengobati sakit hatiku, yaitu tips cara menerbitkan buku sendiri. Mulai dari biaya sendiri, melalui penerbit dengan biaya sendiri, melalui komunitas guru atau sponsor, dan bisa juga melalui sekolah dari anggaran sekolah. Kesimpulannya, banyak jalan menuju ke Jepang. Tergantung niatnya, mau liburan, mau sekolah atau mau kerja. Jadi banyak cara kalau kita berniat menerbitkan buku, mulai dari niat amal, sampai niat untuk mendapat uang.
Sesi IV disampaikan oleh dua orang pembicara sekaligus. Pertama, Bapak Sony Lalengka yang berbicara tentang “Jurnalisme Warga Sebagai Wadah Pendidikan Warga”. Dari materi ini kita dituntut untuk membuat artikel singkat yang berisi laporan sementara kegiatan TWC ini. Yang kedua, Bapak Sudarma yang membicarakan tentang “Menjadi Guru Kaya dari Menulis”. Kata-kata bijak yang menggugah yang aku dapat pada sesi kali ini “Membacalah maka kita akan mengenal dunia, dan menulislah maka kita akan dikenal dunia”. Jadi sejak diniatkan mengikuti TWC dan menginjakkan kaki di Wisma UNJ, aku bertekad untuk mulai membaca dan menuliskan apa saja yang terlintas dan terlihat, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, “Now or Never”.
Sesi materi malam ditutup oleh Miss Juli yang tidak kalah menginspirasi membicarakan tentang “Cara Kreatif Menulis di Blog”. Tipsnya, dalam menulis kita harus memperhatikan judul, lead atau paragraf pembuka dan gambar. Meskipun aku gak pernah berniat nge-blog, tapi aku makin yakin kalau aku punya keinginan yang cukup kuat untuk menjadi seorang penulis. Buktinya? Aku bisa mengerjakan “tugas paksaan” ini dengan cukup baik dan mampu menyelesaikannya sampai kalimat terakhir ini. Alhamdulillah...
Pagi-pagi sekali aku sudah membangunkan adik laki-lakiku dan merengek minta diantarkan ke Wisma UNJ, tempat TWC 6 dilaksanakan. Berhubung kantornya di daerah Kelapa Gading, aku yakin dia pasti tahu jalan pintas tercepat menuju TKP. Setelah sampai di Wisma UNJ jam 07.00 WIB, aku langsung diantarkan menuju kamar 308 yang berada di lantai 3. Dan ternyata di dalam kamar sudah ada 3 orang yang akan menjadi room mate selama pelatihan berlangsung, Bu Ana dan Bu Tuni yang berasal dari sekolah yang sama di daerah Kabupaten Bogor, kemudian ada Bu Neni Yang diam-diam menghanyutkan berasal dari Kabupaten Tasikmalaya.
Tepat jam 08.00 WIB, acara dimulai. Jujur aja, dibilang berbakat untuk menulis aku enggak punya, tapi aku yakin kalo gak mulai dari sekarang kapan lagi. Karena selama ini hanya sebatas niat dan keinginan menulis cerpen, puisi, bahkan buku. Mulai dari MC ngomong pertama aja aku udah deg-degan, sampai akhirnya pembicara pertama membahas tentang “Menjadi Guru Inspiratif dengan Menulis” yang disampaikan oleh Mbak Siti Amelia, atau yang biasa disapa Mbak Amel. Dari situ, mataku mulai terbelalak dalam menulis. Mbak Amel menyampaikan bahwa untuk mulai menulis tidak terlepas dari 4 kunci, yaitu praying, reading, just writing, and discussion. “Sesimpel itu?”, pikirku. Tapi melihat para peserta lain yang ternyata sudah banyak membuat artikel bahkan buku, aku makin termotivasi “Masa guru lain bisa aku enggak? Kemana aja lo selama ini, Nie?”. Kata-kata itu terus berulang di hati aku.
Setelah istirahat coffee break yang agak ngaret, materi sesi II tentang “Cara Kreatif Menulis Buku” oleh Bapak Awang Surya. Luar biasa, sebagai pengusaha Beliau masih sempat mengisi acara sebagai motivator dan pembicara diberbagai pelatihan. Ada kata-kata yang disampaikan dan sangat menggugah mata batinku, “Kalau kau bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Sontak aku berpikir, “Emang siapa gue sampe pengen eksis di sosmed? Artis bukan, pejabat bukan, tapi minimal gue akan mulai eksis dengan tulisan-tulisan gue yang kali aja bisa menginspirasi”. Di setiap akhir sesi, selalu ada tugas membuat tulisan yang temanya macem-macem. Dan akhirnya, keterpaksaan yang indah, yang membuatku sebisa-bisanya menulis di hari ini.
Sebelum ke materi sesi III, ada penjelasan mengenai Program Indonesia Terdidik TIK yang dilakukan oleh Djalaluddin Pane Foundation (DPF), penjelasan disampaikan oleh Mas Fajaruddin sebagai perwakilan dari DPF. Yang intinya, program ini dilakukan untuk memotivasi guru-guru di daerah terpencil untuk melek TIK.
Sesi III disampaikan oleh Bapak Namin AB Ibnu Solihin tentang “Public Speaking for Teachers”. Belum selesai deg-degan yang tadi, dibuat tambahan dengan aku diminta berorasi. Kali ini hasilnya, gagal total, fatal. Malu tapi kalo gak coba gak akan tau aku bisa atau enggak, meskipun akhirnya enggak enggak bisa (hehehe...). Intinya yang aku tangkap, kita sebagai guru harus siap dengan berbagai kondisi dan tantangan yang pasti akan terjadi di lapangan. Sesi kali ini aku tutup dengan memaki diri sendiri, “Malu-maluin lo, Nie!”. Mungkin kalo bisa nangis sejadi-jadinya, tapi gengsi dong. Masih ada sesi lain yang bisa dibikin jauh lebih baik.
Setelah dibikin down, Pak Namin memberikan tips-tips yang sedikit mengobati sakit hatiku, yaitu tips cara menerbitkan buku sendiri. Mulai dari biaya sendiri, melalui penerbit dengan biaya sendiri, melalui komunitas guru atau sponsor, dan bisa juga melalui sekolah dari anggaran sekolah. Kesimpulannya, banyak jalan menuju ke Jepang. Tergantung niatnya, mau liburan, mau sekolah atau mau kerja. Jadi banyak cara kalau kita berniat menerbitkan buku, mulai dari niat amal, sampai niat untuk mendapat uang.
Sesi IV disampaikan oleh dua orang pembicara sekaligus. Pertama, Bapak Sony Lalengka yang berbicara tentang “Jurnalisme Warga Sebagai Wadah Pendidikan Warga”. Dari materi ini kita dituntut untuk membuat artikel singkat yang berisi laporan sementara kegiatan TWC ini. Yang kedua, Bapak Sudarma yang membicarakan tentang “Menjadi Guru Kaya dari Menulis”. Kata-kata bijak yang menggugah yang aku dapat pada sesi kali ini “Membacalah maka kita akan mengenal dunia, dan menulislah maka kita akan dikenal dunia”. Jadi sejak diniatkan mengikuti TWC dan menginjakkan kaki di Wisma UNJ, aku bertekad untuk mulai membaca dan menuliskan apa saja yang terlintas dan terlihat, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, “Now or Never”.
Sesi materi malam ditutup oleh Miss Juli yang tidak kalah menginspirasi membicarakan tentang “Cara Kreatif Menulis di Blog”. Tipsnya, dalam menulis kita harus memperhatikan judul, lead atau paragraf pembuka dan gambar. Meskipun aku gak pernah berniat nge-blog, tapi aku makin yakin kalau aku punya keinginan yang cukup kuat untuk menjadi seorang penulis. Buktinya? Aku bisa mengerjakan “tugas paksaan” ini dengan cukup baik dan mampu menyelesaikannya sampai kalimat terakhir ini. Alhamdulillah...

