"De, mas mau
main ke rumah ya?", Andi membuyarkan lamunanku.
Sudah ratusan kali
Andi mengatakannya sejak kami memutuskan berpacaran. Setiap kali juga Andi
hanya mendengar jawabanku yang menyuruhnya bersabar. Andi sudah ingin bertemu
dengan keluargaku, hanya saja aku masih trauma dengan kata-kata bapak.
Bagaimanapun aku sangat paham sifat bapak yang keras.
Aku berpikir Andi
akan sangat kecewa jika tidak disambut ramah oleh keluargaku. Pernah suatu hari
Andi mengatakan, "Masa iya kamu belum boleh pacaran, kayak anak kecil aja.
Aku punya niat baik kok sama kamu, De". Sejak pertama Andi mendekatiku aku
sudah sering menceritakan kondisi keluargaku, terutama bapak. Dan Andi selalu
meyakinkanku agar aku percaya padanya. "Aku akan berusaha, De. Tapi gimana
caranya kalo aku gak ketemu keluarga kamu".
Sebenarnya aku
paham kalau Andi siap bertemu orang tuaku. Masalahnya ada padaku yang belum
siap menghadapi segudang pertanyaan dari bapak, belum lagi penolakan yang
mungkin saja terjadi. Meskipun, aku sadar tidak akan tahu pendapat orang tuaku
sebelum mereka bertemu Andi.
"Mas, kakekku
meninggal tadi malam", sambil terisak di telepon.
"Aku ke sana
ya De. Di mana alamatnya?", jawabnya yakin.
Diantara kesedihan
dan kekhawatiran aku menunggu Andi di rumah kakek. Tidak ada seorangpun yang
kukenal dari semua orang yang datang, kecuali para tetangga. Itu pun karena
dulu aku pernah tinggal dengan kakek dan nenek, karena tempat kerja mamah yang
bisa dibilang pedalaman. Dengan terpaksa aku dititipkan di
"kota", karena kakek khawatir perkembangan psikisku kurang bagus
nantinya.
Dengan takut ku
antar Andi bertemu bapak dan keluargaku yang lain.
"Pak, ini
teman kantor kakak", kataku singkat.
Aku harap Andi
mengerti karena aku memperkenalkannya sebagai teman. "Alhamdulillah,
ketemu juga", dalam hati. Aku sengaja meninggalkan Andi dengan keluargaku.
Setelah membaca Yasin, entah apa yang Andi dan bapak bicarakan. Respon yang
postif sejauh ini.
Aku sengaja meminta
Andi untuk tinggal dan ikut memakamkan kakek siang itu. Aku pikir, semakin lama
Andi berada ditengah keluargaku di saat seperti ini, makin baik respon bapak.
Untunglah Andi cepat tanggap maksudku dan cukup banyak membantu proses
pemakaman.
Seharian ini bapak
terlihat sangat tegar, padahal mamah yang sebagai menantu saja terlihat sangat
sedih karena kehilangan. Entah gengsi atau memang tipe bapak yang tidak bisa
menunjukkan kesedihan dan kekecewaannya di depan orang lain. Yang pasti, aku
merasa kasihan dan sedih melihatnya berpura-pura tegar.
Malam harinya, aku
baru punya kesempatan duduk berdua dengan bapak. Satu hal yang kuhindari
seharian ini. Tapi sudah terlanjur, aku harus menjelaskan siapa Andi pada
akhirnya. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Pikirku.
“Siapa tadi, kak?”,
tanya bapak.
“Temen kakak di
kantor, pak”, jawabku ragu.
“Bilangin makasih
udah dateng bantuin”. Belum sempat aku menjelaskan apa-apa tentang Andi, bapak
langsung beranjak pergi.
Sejak itu Andi
sengaja sering menjemput dan mengantarku pulang, dengan harapan akan bertemu
dan bisa ngobrol dengan bapak. Tapi Andi masih harus menunggu. Mamah sendiri
tidak pernah melarangku untuk dekat dengan siapa saja. “Yang penting, sholeh,
baik dan bertanggung jawab”, kata mamah.
Aku dan Andi sangat
jarang pergi bermalam minggu, seperti pasangan lainnya. Aku sengaja meluangkan
waktu weekend-ku untuk
keluarga. Meskipun kami jarang berlibur sekeluarga, minimal semua anggota
keluarga ada di rumah dan bisa makan bersama. Aku ingin menikmati kebersamaan
dengan keluarga, karena aku sudah menghabiskan waktu di luar kota selama kuliah.
Setelah kakek
meninggal, aku berusaha terbuka dan sedikit-sedikit menyelipkan nama Andi pada
setiap kesempatan mengobrol. Sampai akhirnya, aku beranikan diri mengundang
Andi ke rumah. Tanpa ekspresi bapak menyambut Andi.
“Assalamu’alaikum,
saya Andi, bisa bertemu Rani, Pak?”, suara Andi terdengar sampai ke kamarku.
“Wa’alaikumsalam,
silahkan. Andi yang waktu itu ya? Makasih ya, maaf bapak belum sempat ngobrol
banyak kemarin”.
"Tumben
baik", dalam hati. Aku berusaha mencuri dengar apa yang mereka bicarakan,
meskipun jarak kamarku ke ruang tamu hanya terpisah tembok pembatas. Tapi aku
tidak dapat mendengar dengan jelas. Yang pasti, aku merasa lega karena
paling tidak bapak mau berbasa-basi mengobrol dengan Andi.
Kubiarkan mereka
mengobrol selama kurang lebih 15 menit, sampai akhirnya aku keluar dengan
keadaan rapi, siap pergi. Dengan sopan Andi meminta ijin mengajakku keluar.
Selama ini belum pernah ada laki-laki yang sengaja datang ke rumah dan meminta
ijin pada orang tuaku untuk mengajakku pergi.
“Mau pergi ke mana?
Jangan lama-lama ya, kak”.
“Ke undangan temen,
Pak. Sebentar”, jawabku.
“Mari, Pak. Kami
pergi dulu, Assalamu’alaikum”, pamit Andi.
“Ya, hati-hati.
Wa’alaikumsalam”, sahut bapak.
Dari intonasinya
aku mengerti bapak khawatir. Khawatir anak gadisnya dibawa lari laki-laki tidak
bertanggung jawab. Khawatir anak gadisnya kecewa dan terluka karena patah hati. Aku
sendiri cukup terharu dengan pencapaianku ini. Aku yakin kedatangan Andi
cukup membuatnya terkejut. Tapi aku berpikir positif, “perkenalan” kali kedua
ini cukup berhasil. Alhamdulillah, lampu kuning.