Monday, January 2, 2017

FINDING Mr. DESTINY - Episode 1


Orang tuaku bisa dibilang agak kolot. Setiap kali ada teman laki-laki yang mengantarku pulang atau datang ke rumah, selalu saja disambut dengan sederet pertanyaan. Kadang malu rasanya, tapi mereka sudah kuberi gambaran tentang bapakku. Untunglah mereka bisa maklum, "Wajar aja, orang Sumatera kan emang keras. Apalagi lo cewek". Padahal sejak kecil aku lebih banyak bermain dengan anak laki-laki.

Saat teman-teman kuliahku sudah mulai berkencan, bapak bilang, "Sekolah dulu yang bener, baru pacar-pacaran". Untunglah aku mulai "dekat" dengan seseorang diakhir masa kuliah. Tapi, tetap saja aku harus backstreet dari orang tuaku selama beberapa bulan. Meskipun akhirnya memang hubungan kami tidak lama.

Lulus kuliah, aku bekerja di salah satu yayasan di daerah Bekasi. Di sana aku bertemu dengan Andi. Sebagai rekan kerja, aku berusaha profesional. Setiap bertemu, aku hanya membicarakan masalah pekerjaan. Tapi, rekan kerjaku Soni selalu ngomporin aku dan Andi.

Jujur saja, pertemuan pertamaku dengan Andi sangat berkesan untukku. Andi cowok yang cerdas, ganteng, rapi, wangi, dan sholeh. "Pasti udah punya pacar, ato jangan-jangan udah punya istri", pikirku. Apalagi bapak bilang, "Kerja dulu yang bener, baru pacaran". Makin pesimis aku untuk kembali berkencan.

Sampai suatu hari setelah Idul Fitri, ada sms masuk ke HPku. Karena tidak ada nama pengirim aku mengabaikannya. Tidak lama kembali ada sms, "Ibu Rani sombong ya. Andi". Langsung aku teringat Andi rekan kerjaku. "Ah, masa iya si Andi", elakku dalam hati.

Akhirnya kuberanikan membalas sms, "Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin. Maaf, ini Andi mana ya?". Setelah terkirim aku baru sadar, kalau ternyata aku balas dengan pertanyaan. Seolah aku ingin melanjutkan percakapan di sms.

Sekian lama berbalas pesan, tiba-tiba Andi mengajakku bertemu di luar sekolah. Rasanya tidak percaya dan segala kemungkinan terlintas dipikiranku. "Dia ngajak gue kencan? Jangan-jangan dia naksir gue? Bukannya dia udah punya cewek?", sejuta pertanyaan terlontar. Tapi tetap saja aku tidak berani membalasnya.
Beberapa hari kuabaikan ajakan Andi, bukan karena aku tidak mau. Tapi karena aku tidak berani memulai kembali. Sebagai perempuan pasti bahagia diperhatikan dan dicintai seseorang, tapi tidak untukku. Tiba-tiba Andi meneleponku karena aku tidak juga membalas pesannya. Akhirnya aku setuju bertemu dengannya, meskipun sebenarnya sudah lama aku ingin membalas pesannya dengan jawaban "ya".

Andi menjemputku sepulang kantor. Kebetulan jadwal kerjaku dan Andi berbeda hari, sehingga kami jarang bertemu. Aku sendiri tidak mau ada teman kantor yang tahu kalau kami saling berkirim pesan. Karena Andi cukup populer di kantor. Mungkin itu juga alasanku minder didekati olehnya.

Sekian lama pendekatan, akhirnya Andi berhasil meyakinkanku untuk pacaran dengannya. Hanya saja, aku masih belum yakin Andi dapat meyakinkan kedua orang tuaku.

14 comments:

  1. Lanjutannya ditunggu bu niarrr, hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. On proses, kali aja bisa terinspirasi mencari sang Mr.Destiny neng Azkiya...

      Delete
  2. Yaaa... kok cuma se uprit. cuma butuh dua menit bacanya, tuntas-tas....

    ReplyDelete
  3. Insyaallah dilanjutkan ya bunda Ade...

    ReplyDelete
  4. Kayaknya bisa jadi novel ne....yuuk ah dilanjut cinnnn

    ReplyDelete
  5. cerpen aja dulu kali ya... hehehehe...

    ReplyDelete
  6. Replies
    1. blom bu ihat.. semoga bisa diselesaikan dengan baik.. heheheh

      Delete