Monday, January 9, 2017

Ujian Seorang Profesional



Jujur aja, kalo boleh bilang sih males banget kembali ke rutinitas. Belum juga berangkat ngantor, udah kebayang segudang pekerjaan menanti. Belum lagi semua laporan kegiatan yang harusnya beres sebelum akhir tahun.

Dilema rasanya, sebagai seorang manusia yang juga butuh refreshing. Dan sebagai seorang pekerja profesional dituntut bekerja lebih giat dari sebelumnya. Tahun ini haruslah lebih baik dari tahun lalu, tapi kenapa belum juga bisa move on untuk mengalahkan rasa malas ya?

Ternyata, sampe di kantor disambut oleh teman-teman yang juga masih "muka libur". Banyak yang cuma sekedar datang untuk membagikan hasil perburuan selama libur. Gak sampe tengah hari, suasana kantor kembali sepi. Pulang.

Sedih ngeliat mental para "profesional" yang maunya selalu disuapin dan dilayanin. Padahal sebagai "pelayan masyarakat", seharusnya kita melayani dengan maksimal.

Belum lagi gaji yang tertunda, semakin bertambah alasan ketidakinginan bekerja di hari pertama. Anehnya dengan digit angka gaji yang tidak sedikit, masih juga menuntut hak tanpa menjalankan kewajiban. Semua selalu dihubungkan dengan, saya dapet berapa? Atau, saya dapet apa?

Bersyukur, itu intinya. Jalani sesuai peraturan, lakukan pekerjaan sesuai job desk, selalu mengerjakan kewajiban tanpa menuntut hak lebih, dan yakin bekerja untuk mendapat pahala. Insyaallah...

Saturday, January 7, 2017

FINDING Mr. DESTINY - Episode 2



"De, mas mau main ke rumah ya?", Andi membuyarkan lamunanku. 

Sudah ratusan kali Andi mengatakannya sejak kami memutuskan berpacaran. Setiap kali juga Andi hanya mendengar jawabanku yang menyuruhnya bersabar. Andi sudah ingin bertemu dengan keluargaku, hanya saja aku masih trauma dengan kata-kata bapak. Bagaimanapun aku sangat paham sifat bapak yang keras. 

Aku berpikir Andi akan sangat kecewa jika tidak disambut ramah oleh keluargaku. Pernah suatu hari Andi mengatakan, "Masa iya kamu belum boleh pacaran, kayak anak kecil aja. Aku punya niat baik kok sama kamu, De". Sejak pertama Andi mendekatiku aku sudah sering menceritakan kondisi keluargaku, terutama bapak. Dan Andi selalu meyakinkanku agar aku percaya padanya. "Aku akan berusaha, De. Tapi gimana caranya kalo aku gak ketemu keluarga kamu". 

Sebenarnya aku paham kalau Andi siap bertemu orang tuaku. Masalahnya ada padaku yang belum siap menghadapi segudang pertanyaan dari bapak, belum lagi penolakan yang mungkin saja terjadi. Meskipun, aku sadar tidak akan tahu pendapat orang tuaku sebelum mereka bertemu Andi. 

"Mas, kakekku meninggal tadi malam", sambil terisak di telepon.

"Aku ke sana ya De. Di mana alamatnya?", jawabnya yakin.

Diantara kesedihan dan kekhawatiran aku menunggu Andi di rumah kakek. Tidak ada seorangpun yang kukenal dari semua orang yang datang, kecuali para tetangga. Itu pun karena dulu aku pernah tinggal dengan kakek dan nenek, karena tempat kerja mamah yang bisa dibilang pedalaman. Dengan terpaksa aku dititipkan di "kota", karena kakek khawatir perkembangan psikisku kurang bagus nantinya.

Dengan takut ku antar Andi bertemu bapak dan keluargaku yang lain. 
"Pak, ini teman kantor kakak", kataku singkat. 

Aku harap Andi mengerti karena aku memperkenalkannya sebagai teman. "Alhamdulillah, ketemu juga", dalam hati. Aku sengaja meninggalkan Andi dengan keluargaku. Setelah membaca Yasin, entah apa yang Andi dan bapak bicarakan. Respon yang postif sejauh ini. 

Aku sengaja meminta Andi untuk tinggal dan ikut memakamkan kakek siang itu. Aku pikir, semakin lama Andi berada ditengah keluargaku di saat seperti ini, makin baik respon bapak. Untunglah Andi cepat tanggap maksudku dan cukup banyak membantu proses pemakaman.

Seharian ini bapak terlihat sangat tegar, padahal mamah yang sebagai menantu saja terlihat sangat sedih karena kehilangan. Entah gengsi atau memang tipe bapak yang tidak bisa menunjukkan kesedihan dan kekecewaannya di depan orang lain. Yang pasti, aku merasa kasihan dan sedih melihatnya berpura-pura tegar. 

Malam harinya, aku baru punya kesempatan duduk berdua dengan bapak. Satu hal yang kuhindari seharian ini. Tapi sudah terlanjur, aku harus menjelaskan siapa Andi pada akhirnya. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Pikirku. 

“Siapa tadi, kak?”, tanya bapak.

“Temen kakak di kantor, pak”, jawabku ragu.

“Bilangin makasih udah dateng bantuin”. Belum sempat aku menjelaskan apa-apa tentang Andi, bapak langsung beranjak pergi.

Sejak itu Andi sengaja sering menjemput dan mengantarku pulang, dengan harapan akan bertemu dan bisa ngobrol dengan bapak. Tapi Andi masih harus menunggu. Mamah sendiri tidak pernah melarangku untuk dekat dengan siapa saja. “Yang penting, sholeh, baik dan bertanggung jawab”, kata mamah.

Aku dan Andi sangat jarang pergi bermalam minggu, seperti pasangan lainnya. Aku sengaja meluangkan waktu weekend-ku untuk keluarga. Meskipun kami jarang berlibur sekeluarga, minimal semua anggota keluarga ada di rumah dan bisa makan bersama. Aku ingin menikmati kebersamaan dengan keluarga, karena aku sudah menghabiskan waktu di luar kota selama kuliah.

Setelah kakek meninggal, aku berusaha terbuka dan sedikit-sedikit menyelipkan nama Andi pada setiap kesempatan mengobrol. Sampai akhirnya, aku beranikan diri mengundang Andi ke rumah. Tanpa ekspresi bapak menyambut Andi.

“Assalamu’alaikum, saya Andi, bisa bertemu Rani, Pak?”, suara Andi terdengar sampai ke kamarku.

“Wa’alaikumsalam, silahkan. Andi yang waktu itu ya? Makasih ya, maaf bapak belum sempat ngobrol banyak kemarin”.

"Tumben baik", dalam hati. Aku berusaha mencuri dengar apa yang mereka bicarakan, meskipun jarak kamarku ke ruang tamu hanya terpisah tembok pembatas. Tapi aku tidak dapat mendengar dengan jelas. Yang pasti, aku merasa lega karena paling tidak bapak mau berbasa-basi mengobrol dengan Andi.

Kubiarkan mereka mengobrol selama kurang lebih 15 menit, sampai akhirnya aku keluar dengan keadaan rapi, siap pergi. Dengan sopan Andi meminta ijin mengajakku keluar. Selama ini belum pernah ada laki-laki yang sengaja datang ke rumah dan meminta ijin pada orang tuaku untuk mengajakku pergi. 

“Mau pergi ke mana? Jangan lama-lama ya, kak”.

“Ke undangan temen, Pak. Sebentar”, jawabku.

“Mari, Pak. Kami pergi dulu, Assalamu’alaikum”, pamit Andi.

“Ya, hati-hati. Wa’alaikumsalam”, sahut bapak.

Dari intonasinya aku mengerti bapak khawatir. Khawatir anak gadisnya dibawa lari laki-laki tidak bertanggung jawab. Khawatir anak gadisnya kecewa dan terluka karena patah hati. Aku sendiri cukup terharu dengan pencapaianku ini. Aku yakin kedatangan Andi cukup membuatnya terkejut. Tapi aku berpikir positif, “perkenalan” kali kedua ini cukup berhasil. Alhamdulillah, lampu kuning.


Monday, January 2, 2017

FINDING Mr. DESTINY - Episode 1


Orang tuaku bisa dibilang agak kolot. Setiap kali ada teman laki-laki yang mengantarku pulang atau datang ke rumah, selalu saja disambut dengan sederet pertanyaan. Kadang malu rasanya, tapi mereka sudah kuberi gambaran tentang bapakku. Untunglah mereka bisa maklum, "Wajar aja, orang Sumatera kan emang keras. Apalagi lo cewek". Padahal sejak kecil aku lebih banyak bermain dengan anak laki-laki.

Saat teman-teman kuliahku sudah mulai berkencan, bapak bilang, "Sekolah dulu yang bener, baru pacar-pacaran". Untunglah aku mulai "dekat" dengan seseorang diakhir masa kuliah. Tapi, tetap saja aku harus backstreet dari orang tuaku selama beberapa bulan. Meskipun akhirnya memang hubungan kami tidak lama.

Lulus kuliah, aku bekerja di salah satu yayasan di daerah Bekasi. Di sana aku bertemu dengan Andi. Sebagai rekan kerja, aku berusaha profesional. Setiap bertemu, aku hanya membicarakan masalah pekerjaan. Tapi, rekan kerjaku Soni selalu ngomporin aku dan Andi.

Jujur saja, pertemuan pertamaku dengan Andi sangat berkesan untukku. Andi cowok yang cerdas, ganteng, rapi, wangi, dan sholeh. "Pasti udah punya pacar, ato jangan-jangan udah punya istri", pikirku. Apalagi bapak bilang, "Kerja dulu yang bener, baru pacaran". Makin pesimis aku untuk kembali berkencan.

Sampai suatu hari setelah Idul Fitri, ada sms masuk ke HPku. Karena tidak ada nama pengirim aku mengabaikannya. Tidak lama kembali ada sms, "Ibu Rani sombong ya. Andi". Langsung aku teringat Andi rekan kerjaku. "Ah, masa iya si Andi", elakku dalam hati.

Akhirnya kuberanikan membalas sms, "Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin. Maaf, ini Andi mana ya?". Setelah terkirim aku baru sadar, kalau ternyata aku balas dengan pertanyaan. Seolah aku ingin melanjutkan percakapan di sms.

Sekian lama berbalas pesan, tiba-tiba Andi mengajakku bertemu di luar sekolah. Rasanya tidak percaya dan segala kemungkinan terlintas dipikiranku. "Dia ngajak gue kencan? Jangan-jangan dia naksir gue? Bukannya dia udah punya cewek?", sejuta pertanyaan terlontar. Tapi tetap saja aku tidak berani membalasnya.
Beberapa hari kuabaikan ajakan Andi, bukan karena aku tidak mau. Tapi karena aku tidak berani memulai kembali. Sebagai perempuan pasti bahagia diperhatikan dan dicintai seseorang, tapi tidak untukku. Tiba-tiba Andi meneleponku karena aku tidak juga membalas pesannya. Akhirnya aku setuju bertemu dengannya, meskipun sebenarnya sudah lama aku ingin membalas pesannya dengan jawaban "ya".

Andi menjemputku sepulang kantor. Kebetulan jadwal kerjaku dan Andi berbeda hari, sehingga kami jarang bertemu. Aku sendiri tidak mau ada teman kantor yang tahu kalau kami saling berkirim pesan. Karena Andi cukup populer di kantor. Mungkin itu juga alasanku minder didekati olehnya.

Sekian lama pendekatan, akhirnya Andi berhasil meyakinkanku untuk pacaran dengannya. Hanya saja, aku masih belum yakin Andi dapat meyakinkan kedua orang tuaku.

Sunday, January 1, 2017

WAJAH KAMPUNG HALAMANKU



Sedih rasanya melihat tempat menghabiskan liburan semasa kecil berubah menjadi lautan. Jalanan dan rumah-rumah sudah setengah hancur, hanya terlihat genteng-genteng rumah yang tertutup air. "Rumah gue tuh", bisik hati miris. 
Dikatakan laut, bukan. Danau pun bukan. Kenangan masa kecilku sudah tenggelam, bersama tenggelamnya rumah-rumah itu.
Sekarang, sudah tak ada gairah untuk pulang kampung. Rumahnya berbeda, orang-orangnya berbeda, dan suasana yang sangat jauh berbeda. Tidak pulang, tak mungkin. Tetapi pulang pun, malas rasanya. 
Untuk orang lain, tempat ini sudah menjadi tempat wisata. Bahkan mereka sengaja datang dari jauh, hanya untuk berfoto. Tetapi untukku rumah-rumah yang hancur tergenang air, tidak berbeda dengan kampung yang terkena tsunami hebat. Hancur, kumuh, dan jorok. Kalau sudah begini, siapa yang akan bertanggung jawab? 
Kembalikan kampung halamanku...